Konsep Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
adalah suatu upaya yang ditujukan untuk mencegah transmisi penyakit menular di semua
tempat pelayanan kesehatan (Minnesota Department of Health, 2014). Pencegahan
memiliki arti mencegah agar tidak terjadi infeksi, sedangkan pengendalian
memiliki arti meminimalisasi resiko terjadinya infeksi. Dengan demikian, tujuan
utama dari pelaksanaan program ini adalah mencegah dan mengendalikan infeksi
dengan cara menghambat pertumbuhan dan transmisi mikroba yang berasal dari
sumber di sekitar penderita yang sedang dirawat (Darmadi, 2008).
Tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi
(PPI), tidak terpisah dari komponen-komponen lain dalam asuhan selama
persalinan dan kelahiran bayi, keluarga, penolong persalinan dan tenaga
kesehatan lainnya dengan mengurangi infeksi karena bakteri, virus, dan jamur.
Dilakukan pula upaya untuk menurunkan resiko penularan penyakit-penyakit yang
berbahaya yang hingga kini belum ditemukan pengobatannya seperti Hepatitis dan
HIV/AIDS.
1.2 Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
definisi penyakit infeksi?
2. Bagaimana
rantai penularan penyakit infeksi?
3. Bagaimana
resiko Health Care Associated Infection?
4. Bagaimana
pencegahan dan pengendalian infeksi?
5. Bagaimana
strategi pencegahan dan pengendalian infeksi?
1.3 Tujuan
Masalah
1. Untuk
mengetahui definisi penyakit infeksi
2. Untuk
mengetahui rantai penularan penyakit infeksi
3. Untuk
mengetahui resiko Health Care Associated Infection
4. Untuk
mengetahui pencegahan dan pengendalian infeksi
5. Untuk
mengetahui strategi pencegahan dan pengendalian infeksi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1
Definisi
Penyakit Infeksi
A. Pengertian
Infeksi
Infeksi
adalah proses saat organisme (bakteri, virus, jamur) yang mampu menyebabkan
penyakit masuk kedalam tubuh atau jaringan dan menyebabkan trauma atau
kerusakan. Bakteri, virus, jamur memiliki berbagai cara untuk masuk ke dalam
tubuh. Cara penularan dibagi menjadi kontak langsung dan tidak langsung. Kontak
langsung terdiri atas penyebaran orang ke orang (misalnya bersin, kontak
seksual, atau semacamnya), hewan ke orang (misalnya dari gigitan atau cakaran
binatang, binatang peliharaan), atau dari ibu hamil ke anaknya yang belum lahir
melalui plasenta. Kontak tidak langsung teridiri atas gigitan serangga yang
hanya menjadi pembawa dari mikoorganisme atau vektor (seperti nyamuk, lalat,
kutu) dan kontaminasi melalui air dan makanan.
Setelah
masuk ke dalam tubuh mikoorganisme tersebut mengakibatkan beberapa perubahan.
Mikoorganisme tersebut memperbanyak diri dengan caranya masing – masing dan
menyebabkan cedera jaringan dengan berbagai mekanisme yang mereka punya,
seperti mengeluarkan toksin, mengganggu DNA sel normal, dan sebagainya.
B. Penyebab
infeksi
Gejala
dari infeksi bervariasi, bahkan ada kondisi dimana infeksi tersebut tidak
menimbulkan sub klinis. Gejala yang ditimbulkan terkadang bersifat lokal (di
tempat masuknya mikoorganisme) atau sistematik (menyebar keseluruh tubuh).
Berikut adalah beberapa gejala yang timbul berdasarkan penyebabnya :
1.
Bakteri: gejala yang
ditimbulkan oleh infeksi bakteri bervariasi tergantung bagian tubuh mana yang
diinfeksi. Jika seseorang terkena infeksi bakteri di tenggorokan, maka ia akan
merasakan nyeri tenggorokan, batuk, dan sebagainya. Jika mengalami infeksi
bakteri pada perncernaan, maka ia akan merasakan gangguan pencernaan seperti
diare, konstipasi, mual atau muntah.
2.
Virus: gejala yang
ditimbulkan oleh infeksi tergantung dari tipe virus, bagian tubuh yang
terinfeksi, usia, dan riwayat penyakitnya. Gejala dari infeksi virus dapat
mempengaruhi hampir seluruh bagian tubuh. Gejala yang sering timbul biasanya flu,
gangguan pencernaan, bersin–bersin, hidung berair dan tersumbat, pembesaran
kelenjar getah bening, pembengkakan tonsil, atau bahkan turunya berat badan.
3.
Jamur: kebanyakan jamur
menginfeksi kulit, meskipun terdapat bagian tubuh lain yang dapat terinfeksi
seperti paru–paru dan otak. Gejala infeksi yang disebabkan oleh jamur antara
lain gatal, kemerahan, kadang terdapat rasa bakar, dan kulit bersisik.
2.2
Rantai
Penularan
1.
Agen/Penyebab Infeksi
Mikroorganisme
yang termasuk dalam agen infeksi antara lain bakteri, virus, jamur dan
protozoa. Mikroorganisme dikulit bisa merupakan flora transient maupun
resident. Mikroorganisme transient normalnya ada dan jumlahnya stabil,
organisme ini bisa hidup dan berbiak dikulit. Organisme transient melekat pada
kulit saat seseorang kontak dengan objek atau orang lain dalam aktivitas
normal. Organisme ini siap ditularkan kecuali dengan cuci tangan. Organisme
residen tidak dengan mudah bisa dihilangkan melalui cuci tangan dengan sabun
dan detergen biasa kecuali bila gosokan dilakukan dengan seksama.
Mikroorganisme dapat menyebabkan infeksi tergantung pada: jumlah
mikroorganisme, virulensi (kemampuan menyebabkan penyakit), kemampuan untuk
masuk dan bertahan hidup dalam host serta kerentanan dalam host/pejamu.
2.
Reservoir (sumber mikroorganisme)
Reservoir
adalah tempat dimana mikroorganisme patogen dapat hidup baik berkembang biak
atau tidak adalah manusia, binatang, makanan, air, serangga dan benda lain.
Kebanyakan reservoir adalah tubuh manusia, terutama dikulit, mukosa, cairan
atau drainase. Adanya mikroorganisme patogen dalam tubuh tidak selalu
menyebabkan penyakit pada hostnya. Sehingga reservoir yang didalamnya terdapat
mikroorganisme patogen bisa menyebabkan orang lain bisa menjadi sakit (carier).
Kuman dapat hidup dan berkembang biak dalam reservoir jika karakteristik
reservoirnya cocok dengan kuman. Karakteristik tersebut adalah air, suhu, ph,
udara dan pencahayaan.
3.
Portal of exit
Mikroorganisme
yang hidup didalam reservoir harus menemukan jalan keluar untuk masuk ke dalam
host dan menyebabkan infeksi. Sebelum menimbulkan infeksi, mikroorganisme harus
keluar terlebih dahulu dari reservoirnya. Jika reservoirnya manusia, kuman
dapat keluar melalui saluran pencernaan, pernafasan, perkemihan, genetalia,
kulit, membrane mukosa yang rusak serta darah.
4.
Cara penularan (transmisi)
a.
Kontak (contact
transmission):
1) Direct/Langsung:
kontak badan ke badan transfer kuman penyebab secara fisik pada saat pemeriksaan
fisik, memandikan klien, dll.
2) Indirect/Tidak
langsung: kontak melalui objek (benda/alat). Dengan perantara: instrumen,
jarum, kasa, tangan yang tidak dicuci.
b.
Droplet : partikel
droplet > 5 μm melalui batuk, bersin, bicara, jarak sebar pendek, tdk
bertahan lama di udara, “deposit” pada mukosa konjungtiva, hidung, mulut contoh
: Difteria, Pertussis, Mycoplasma, Haemophillus influenza type b (Hib), virus influenza, mumps, rubella.
c.
Airborne : partikel
kecil ukuran < 5 μm, bertahan lama di
udara, jarak penyebaran jauh, dapat terinhalasi, contoh: Mycobacterium
tuberculosis, virus campak, varisela (cacar air), spora jamur.
d.
Melalui Vehikulum :
Bahan yang dapat berperan dalam mempertahankan kehidupan kuman penyebab sampai
masuk (tertelan atau terokulasi) pada pejamu yang rentan. Contoh: air, darah,
serum, plasma, tinja, makanan.
e.
Melalui Vektor :
Artropoda (umumnya serangga) atau binatang lain yang dapat menularkan kuman
penyebab cara menggigit pejamu yang
rentan atau menimbun kuman penyebab pada kulit pejamu atau makanan. Contoh:
nyamuk, lalat, pinjal/kutu, binatang pengerat.
5.
Portal masuk
Sebelum
seseorang terinfeksi, mikroorganisme harus masuk dalam tubuh. Kulit
merupakan barier pelindung tubuh
terhadap masuknya kuman infeksius. Rusaknya kulit atau ketidakutuhan kulit
dapat menjadi portal masuk. Mikroba dapat masuk kedalam tubuh melalui rute yang
sama dengan portal keluar. Faktor-faktor yang menurunkan daya tahan tubuh
memperbesar kesempatan patogen masuk kedalam tubuh.
6.
Daya tahan hospes
(manusia)
Seseorang
terkena infeksi bergantung pada kerentanan terhadap agen infeksius. Kerentanan
bergantung pada derajat ketahanan tubuh individu terhadap patogen. Meskipun
seseorang secara konstan kontak dengan mikroorganisme dalam jumlah yang besar,
infeksi tidak akan terjadi sampai individu rentan terhadap kekuatan dan jumlah
mikroorganisme tersebut. Beberapa faktor yang mempengaruhi kerentanan tubuh
terhadap kuman yaitu usia, keturunan, stress (fisik dan emosional), status
nutrisi, terapi medis, pemberian obat dan penyakit penyerta.
A. Proses Terjadinya Infeksi
Infeksi
terjadi secara progresif dan beratnya infeksi pada klien tergantung dari
tingkat infeksi, patogenisitas mikroorganisme dan kerentanan penjamu. Dengan
proses perawatan yang tepat, maka akan meminimalisir penyebaran dan
meminimalkan penyakit. Perkembangan infeksi mempengaruhi tingkat asuhan
keperawatan yang diberikan.
Berbagai
komponen dari sistem imun memberikan jaringan kompleks mekanisme yang sangat
baik yang jika utuh, berfungsi mempertahankan tubuh terhadap mikroorganisme
asing dan sel-sel ganas.
Secara
umum proses terjadinya infeksi adalah sebagai berikut:
1.
Tahap Inkubasi
Tahap
inkubasi adalah interval antara masuknya patogen ke dalam tubuh dan munculnya
gejala pertama.
2.
Tahap Prodromal
Tahap
prodromal adalah Interval dari awitan tanda dan gejala non spesifik
(malaise,demam ringan, keletihan) sampai gejala yang spesifik. (selama masa
ini, mikroorganisme tumbuh dan berkembang biak dan kien lebih mampu menyebarkan
penyakit ke orang lain).
3.
Tahap sakit
Tahap
sakit adalah interval saat klien memanifestasikan tanda dan gejala yang
spesifik terhadap, jenis infeksi (misalnya: demam di manifestasikan dengan
sakit tenggorokan, kongesti sinus, rhinitis, dan seperti mumps (gondok)
dimanifestasikan dengan sakit telinga, demam tinggi, pembengkakan kelenjar paratiroid
dan saliva)
4.
Pemulihan
Pemulihan
adalah interval saat munculnya gejala akut infeksi (lamanya penyembuhan
bergantung pada beratnya infeksi dan keadaan umum kesehatan klien, penyembuhan
bisa berlangsung dalam beberapa hari atau bahkan sampai bulanan.
2.3 Faktor Resiko (Health
Associated Infections)
”Health-care Associated Infections (HAIs)” merupakan
komplikasi yang paling sering terjadi di pelayanan kesehatan. HAIs selama ini
dikenal sebagai Infeksi Nosokomial atau disebut juga sebagai Infeksi di rumah
sakit ”Hospital-Acquired Infections” merupakan persoalan serius karena
dapat menjadi penyebab langsung maupun tidak langsung kematian pasien. Kalaupun
tak berakibat kematian, pasien dirawat lebih lama sehingga pasien harus
membayar biaya rumah sakit yang lebih banyak.
HAIs adalah penyakit infeksi yang pertama muncul
(penyakit infeksi yang tidak berasal dari pasien itu sendiri) dalam waktu
antara 48 jam dan empat hari setelah pasien masuk rumah sakit atau tempat
pelayanan kesehatan lainnya, atau dalam waktu 30 hari setelah pasien keluar
dari rumah sakit. Dalam hal ini termasuk infeksi yang didapat dari rumah sakit
tetapi muncul setelah pulang dan infeksi akibat kerja terhadap pekerja di
fasilitas pelayanan kesehatan.
Angka kejadian terus meningkat mencapai sekitar 9%
(variasi3-21%) atau lebih dari 1,4 juta pasien rawat inap di rumah sakit
seluruh dunia.Kondisi ini menunjukkan penurunan mutu pelayanan kesehatan.
Tak dipungkiri lagi untuk masa yang akan datang dapat timbul tuntutan hukum
bagi sarana pelayanan kesehatan, sehingga kejadian infeksi di pelayanan
kesehatan harus menjadi perhatian bagi Rumah Sakit.
Pasien, petugas kesehatan, pengunjung dan penunggu
pasien merupakan kelompok yang berisiko mendapat HAIs. Infeksi ini dapat
terjadi melalui penularan dari pasien kepada petugas, dari pasien ke pasien
lain, dari pasien kepada pengunjung atau keluarga maupun dari petugas kepada
pasien. Dengan demikian akan menyebabkan peningkatan angka morbiditas,
mortalitas, peningkatan lama hari rawat dan peningkatan biaya rumah sakit.
Program Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI)
sangat Penting untuk melindungi pasien, petugas juga pengunjung dan keluarga
dari resiko tertularnya infeksi karena dirawat, bertugas juga berkunjung ke
suatu rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan lainnya. Keberhasilan
program PPI perlu keterlibatan lintas profesional: Klinisi, Perawat,
Laboratorium, Kesehatan Lingkungan, Farmasi, Gizi, IPSRS, Sanitasi & Housekeeping,
dan lain-lain sehingga perlu wadah berupa Komite Pencegahan dan
Pengendalian Infeksi.
Beberapa rumah sakit atau fasilitas pelayanan kesehatan merupakan lahan
praktik bagi mahasiswa/siswa serta peserta magang dan pelatihan yang
berasal dari berbagai jenjang pendidikan dan institusi yang berbeda-beda. Tak
diragukan lagi bahwa semua mahasiswa/siswa dan peserta magang/pelatihan
mempunyai kontribusi yang cukup besar dalam penularan infeksi dan akan beresiko
mendapatkan HAIs. Oleh karena itu penting bagi mahasiswa/siswa, peserta
magang/pelatihan, termasuk juga karyawan baru memahami proses terjadinya
infeksi, mikroorganisme yang sering menimbulkan infeksi, serta bagaimana
pencegahan dan pengendalian infeksi di rumah sakit. Sebab bila sampai terjadi
infeksi nosokomial akan cukup sulit mengatasinya, pada umumnya kuman sudah
resisten terhadap banyak antibiotika. Sehingga semua mahasiswa/siswa, peserta
magang/pelatihan yang akan mengadakan praktik di rumah sakit dan fasilitas
pelayanan kesehatan lainnya, termasuk juga karyawan baru yang akan bertugas
harus diberikan Layanan Orientasi dan Informasi (LOI) tentang Pencegahan dan
Pengendalian Infeksi. Healthcare associated infections (HAIs) dahulu
dikenal sebagai infeksi nosokomial atau hospital-acquired infections.
HAIs adalah infeksi yang terjadi pada pasien selama perawatan di rumah sakit
atau fasilitas kesehatan lainnya. Infeksi tersebut tidak ditemukan atau tidak
sedang berinkubasi pada saat pasien masuk. Termasuk dalam definisi ini adalah
infeksi yang didapat di rumah sakit namun baru bermanifestasi setelah pasien
keluar. Selain pada pasien, HAIs dapat terjadi padatenaga kesehatan, staf,dan
pengunjung rumah sakit. (WHO)
Penyebab HAIs adalah mikroorganisme yang berasal flora
normal pasien itu sendiri yang menjadi invasif pada keadaan tertentu, maupun
tercemar dari alat/prosedur yang steril melalui tangan para tenaga
kesehatan..
Di negara maju, faktor-faktor yang menyebabkan seorang
pasien rentan HAIs antara lainadalah umur >65 tahun, masuk sebagai kasus
gawat darurat yang dirawat di ICU, lama perawatan ≥ 7 hari, menggunakan central
venous catheter, indwelling urinary catheter, atau endotracheal
tube, pasca pembedahan,keadaan imunosupresi, penyakit berat, dan penurunan
kesadaran.Di negara berkembang, faktor-faktor tersebut ditambah dengan
kemiskinan, malnutrisi, usia < 1 tahun, berat badan lahir rendah, dan
kurangnya berjalannya program pengendalian infeksi di rumah sakit.
Data global HAIs saat ini masih terbatas, namun secara
umum disebutkan bahwa prevalensi HAIs di negara berkembang lebih tinggi dari
negara maju (10,1% vs 7,6%). Di Indonesia adalah 7,1%. Infeksi yang sering
ditemukan adalah yang berkaitan dengan penggunaan alat atau prosedur invasif,
yaitu catheter-associatedurinary tract infection (CAUTI), central
line-associatedblood stream infection (CLABSI), ventilator-associated
infection (VAP)dan surgical site infection (SSI). Risiko pasien
terkena HAIs meningkat signifikan di ICU. Di negara maju sekitar 30% pasien ICU
menderita sedikitnya satu episode HAIs. Dan risiko ini meningkat 2-3 kali lipat
di negara berkembang.
Laporan CDC yakni “Multistate
Point-Prevalence Survey of Health Care-Associated Infections” ,
menunjukkan data dari 183 rumah sakit di Amerika pada tahun 2011 used 2011
data from 183; memperkirakan terjadi 721,800 kasus infeksi yang diderita
oleh 648,000 pasien, sejumlah 75,000 pasien meninggal pada saat perawatan
akibat associated infections.
HAI yang umum diderita adalah peneumonia
(22%), infeksi luka operasi/surgical-site
infections (22%), infeksi saluran cerna (17%), infeksi saluran ke,ih (13%),
dan infeksi aliran darah (10%). Kuman penyebab HAI adalah Clostridium difficile (12%), Staphylococcus
aureus, serta methicillin-resistant
Stapylococcus aureus [MRSA] (11%), Klebsiella
(10%), Escherichia coli (9%), Enterococcus (9%), dan Psuedomonas (7%).
Dampak HAIs adalah peningkatan kesakitan dan kematian,
penambahan lama hari dan biaya perawatan, peningkatan resistensi antibiotik, serta
peningkatan beban biaya pada sistem kesehatan.
2.4
Pencegahan
dan Pengendalian Infeksi
Kemenkes RI
(2011), menuliskan bahwa
ada sepuluh hal
yang perlu dilakukan
dalam
pelaksanaan PPI, yaitu:
a.
Kebersihan tangan
Praktek
membersihkan tangan adalah upaya mencegah infeksi yang disebarkan melalui tangan dengan menghilangkan semua kotoran
dan debris serta menghambat dan membunuh
mikroorganisme pada kulit. Menjaga kebersihan tangan ini
dilakukan segera setelah
sampai di tempat
kerja, sebelum kontak dengan
klien atau melakukan
tindakan untuk klien,
selama melakukan indakan (jika
secara tidak sengaja
terkontaminasi) dan setelah
kontak atau melakukan tindakan
untuk klien. Secara garis
besar, kebersihan tangan dilakukan pada
air mengalir, menggunakan
sabun dan/atau larutan antiseptik, dan diakhiri dengan mengeringkan
tangan dengan kain yang bersih dan kering (Kemenkes RI, 2011).
b.
Penggunaan Alat
Pelindung Diri (APD)
Alat
Pelindungan Diri (APD) telah lama digunakan untuk melindungi klien dari mikroorganisme yang ada pada petugas kesehatan.
Namun, dengan munculnya Acquired
Immunodeficiency Syndrome (AIDS) dan Hepatitis C, serta meningkatnya
kembali kasus Tuberculosis (TBC), penggunaan APD juga menjadi sangat penting
dalam melindungi petugas. Alat pelindung diri mencakup sarung tangan, masker, alat pelindung mata, topi,
gaun, apron, pelindung kaki, dan alat pelindung lainnya (Kemenkes RI, 2011).
c.
Penatalaksanaan
peralatan klien dan linen
Konsep
ini meliputi cara memproses instrumen yang kotor, sarung tangan, linen, dan
alat yang akan dipakai kembali dengan menggunakan larutan klorin 0,5%,
mengamankan alat-alat kotor yang akan tersentuh serta memilih proses penanganan
yang akan digunakan secara tepat. Penatalaksanaan ini dapat dilakukan dengan
precleaning, pencucian dan pembersihan, Desinfeksi Tingkat Tinggi (DTT), serta
sterilisasi (Kemenkes RI, 2011).
d.
Pengelolaan limbah
Pengelolaan
limbah merupakan salah satu upaya kegiatan PPI berupa pengelolaan limbah rumah
sakit atau fasilitas kesehatan lainnya, baik limbah yang terkontaminasi maupun
yang tidak terkontaminasi (Kemenkes RI, 2011).
e.
Pengendalian lingkungan
rumah sakit
Tujuan
pengendalian lingkungan rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya adalah
untuk menciptakan lingkungan yang bersih, aman, dan nyaman. Pengendalian
lingkungan secara baik dapat meminimalkan atau mencegah transmisi
mikroorganisme dari lingkungan kepada klien, petugas, pengunjung dan masyarakat
di sekitar rumah sakit atau fasilitas kesehatan (Kemenkes RI, 2011).
f.
Kesehatan
karyawan/perlindungan pada petugas kesehatan
Petugas
kesehatan beresiko terinfeksi bila terpapar kuman saat bekerja. Upaya rumah sakit
atau fasilitas kesehatan untuk mencegah transmisi ini adalah membuat program
pencegahan dan pengendalian infeksi pada petugasnya, misalnya dengan pemberian
imunisasi (Kemenkes RI, 2011).
g.
Penempatan/isolasi klien
Penerapan
program ini diberikan pada klien yang telah atau sedang dicurigai menderita
penyakit menular. Klien akan ditempatkan dalam suatu ruangan tersendiri untuk
meminimalkan proses penularan pada orang lain (Kemenkes RI, 2011).
h.
Hygiene respirasi/etika
batuk
Semua
klien, pengunjung, dan petugas kesehatan perlu memperhatikan kebersihan
pernapasan dengan cara selalu menggunakan masker jika berada di fasilitas
pelayanan kesehatan. Saat batuk, sebaiknya menutup mulut dan hidung menggunakan
tangan atau tissue (Kemenkes RI, 2011).
i.
Praktik menyuntik yang
aman
Jarum
yang digunakan untuk menyuntik sebaiknya jarum yang steril dan sekali pakai
pada setiap kali suntikan (Kemenkes RI, 2011).
j.
Praktik lumbal pungsi
Saat
melakukan prosedur lumbal pungsi sebaiknya menggunakan masker untuk mencegah
transmisi droplet flora orofaring (Kemenkes RI, 2011).
A. Memproses
Alat Bekas Pakai
3 proses pokok yang direkomendasikan untuk proses
peralatan dan benda – benda lain dalam upaya pencegahan infeksi.
·
Dekontaminasi
·
Sterilisasi
·
DTT
1. Dekontaminasi
Sudah lebih dari 20 tahun.
Dekontaminasi terbukti dapat mengurangi tingkat kontaminasi mikrobial pada
instrumen bedah. Misalnya, studi yang dilakukan oleh Nystrom (1981) menemukan
kurang dari 10 mikroorganime pada 75 % dari alat yang tadinya tercemar dan pada
98% kurang dari 100 pada alat yang telah dibersihkan dan didekontaminasi.
Berdasarkan penemuan ini, sangat dianjurkan agar alat dan benda-benda lain yang
dibersihkan dengan tangan, didekontaminasi terlebih dahulu untuk meminimalkan
risiko infeksi kepada petugas yang tidak sengaja terluka saat membersihkan
serta mengurangi kontaminasi kuman pada tangan mereka.
Dekontaminasi merupakan langkah
pertama dalam menangani alat bedah, sarung tangan dan benda lainnya yang telah
tercemar. Hal penting sebelum membersihkan adalah mendekontaminasi alat
tersebut dengan merendamnya di larutan klorin 0,5% selama 10 menit. Langkah ini
dapat me-non-aktifkan HBV, HCV dan HIV serta dapat mengamankan petugas yang
membersihkan alat tersebut (AORN 1990; ASHCSP 1986).
1.
Produk-Produk Dekontaminasi
Larutan klorin terbuat dari sodium
hipoklorit yang umumnya tidak mahal dan merupakan produk dengan reaksi yang
paling cepat dan efektif pada proses dekontaminasi, tetapi ada juga bahan
lainnya yang bisa digunakan seperti etil atau isoprofil alkohol 70% dan bahan
fenolik 0,5% - 3% (Crutcher dkk 1991).
Apabila tidak tersedia disinfektan
untuk proses dekontaminasi, diperlukan kewaspadaan tinggi saat menangani dan
membersihkan benda tajam tercemar (misal jarum jahit, gunting, dan pisau
bedah).
Tabel Mempersiapkan Larutan Klorin
Cair dari Cairan Pemutih (Larutan Sodium Hipoklorit) untuk proses Dekontaminasi
dan DTT.
Tipe/merek pemutih
(menurut negara)
|
Klorin
(% kepekatan)
|
Jumlah air per 1 bagian pemutiha
|
|
0,5%
|
0,1%b
|
||
8o klorumc
|
2,4%
|
4
|
23
|
JIK (Kenya),
Pemutih Robin (Nepal)
|
3,5%
|
6
|
34
|
12o
klorum
|
3,6%
|
6
|
35
|
Pemutih
rumah tangga (AS, Indonesia), ACE (Turki) Eau de Javal
(Perancis) (15o klorum) Lejia (Peru)
|
5%
|
9
|
49
|
Blanquedor,
Cloro (Meksiko)
|
6%
|
11
|
59
|
Lavandina
(Bolivia)
|
8%
|
15
|
79
|
Chloros (Inggris)
|
10%
|
19
|
99
|
Chloros
(Inggris), Extrait de Javel (Perancis) (48o klorumc)
|
15%
|
29
|
149
|
Tabel A.1
a.
Baca sebagai satu bagian (misal cangkir atau gelas)
cairan pemutih pekat untuk x bagian air (JIK {larutan 0,5%} – campur 1 cangkir
pemutih dengan 6 cangkir air sehingga seluruhnya menjadi 7 cangkir).
b.
Gunakan air matang saat menyiapkan larutan klorin 0,1%
untuk DTT karena air ledeng mengandung bahan organik mikroskopis yang dapat
menonaktifkan klorin.
c.
Di beberapa negara, konsentrasi sodium hipoklorit ditunjukan
dengan derajat klorometrik (klorum); satu klorum kira-kira sama dengan
kepekatan klorin 0,3%.
Rumus
membuat larutan klorin cari dari larutan hipoklorit
Jumlah Bagian (JB) air =[%
konsentrat ] - 1
% keenceran
|
Tabel A.1.2
2. Tips Dekontaminasi
1) Gunakan tempat plastik untuk
dekontaminasi agar mencegah:
a. Tumpulnya
pisau (misak gunting) saat bersentuhan dengan kontainer logam, dan
b. Berkaratnya
instrumen karena reaksi kimia (elektrilisis) yang terjadi antara dua logam yang
berbeda (misal instrumen dan wadah) bila direndam dalam air.
2) Jangan
merendam instrumen logam yang berlapis elektro (artinya tidak 100% baja tahan
gores) meski dalam air biasa selama beberapa jam karena akan berkarat.
Setelah
dekontaminasi, instrument harus segera dicuci dengan air dingin
untuk menghilangkan bahan organik sebelum dibersihkan secara menyeluruh.
Misalnya, beberapa fasilitas pelayanan kesehatan menaruh 2 ember di ruang
operasi, satu ember diisi dengan larutan klorin 0,5% dan ember yang satu lagi
diisi dengan air, sehingga instrumen tersebut dapat ditempatkan dalam air
setelah direndam dalam larutan klorin selama 10 menit. Meski hal ini akan
membantu mencegah korosi, instrumen akan tetap berkarat bila direndam selama
satu jam di dalam air biasa.
Jarum habis
pakai dan semprit harus di dekontaminasi diletakkan dalam wadah yang
tahan tusukan, dienkapsulasi, dibakar, maupun dikubur. Apabila akan digunakan
kembali, maka jarum dan semprit harus dibersihkan dan dicuci secara menyeluruh
setelah didekontaminasi. Sebab jarum yang terkontaminasilah yang paling sering
menimbulkan cedera, oleh karena itu dianjurkan hanya semprit yang diproses
sebelum digunakan kembali, dan tidak untuk jarum. Tindakan ini lebih aman
dibandingkan dengan memproses jarum dan semprit. Selain itu, akan mengurangi
biaya dan juga menghasilkan sedikit sampah terkontaminasi daripada membuang
keduanya.
Permukaan
yang luas, misalnya pada pemeriksaan pelvis atau meja operasi,
yang kemungkinan besar bersentuhan dengan darah atau duh tubuh harus
didekontaminasi. Menyeka dengan disinfektan yang tepat seperti larutan klorin
0,5% sebelum digunakan kembali atau saat terkena kontaminasi, merupakan cara
yang mudah dan murah untuk proses dekontaminasi pada permukaan yang luas.
Sekali
instrumen atau benda lainnya telah didekontaminasi, maka selanjutnya bisa
diproses dengan aman. Tindakan ini meliputi pembersihan dan akhirnya dengan
melakukan sterilisasi atau disinfektan tingkat tinggi (DTT).
2. Sterilisasi
Sterilisasi dapat membunuh semua mikroorganisme,
termasuk bakteri endospora.
Sterilisasi merupakan upaya pembunuhan atau
penghancuran semua bentuk kehidupan mikroba yang dilakukan di rumah sakit
melalui proses fisik maupun kimiawi. Strilisasi jika dikatakan sebagai tindakan
untuk membunuh kuman patoge atau apatoge beserta spora yang terdapat pada alat
perawatan atau kedokteran denngan cara merebus, stoom, panas tinggi atau bahan
kimia.jenis sterilisasi antara lain sterlisasi cepat,strilisasi panas
kering,strerilisasi gas (formalin, H2O2 ), rdiasi
ionisasi.
Sterilisasi harus dilakukan untuk
alat-alat, sarung tangan bedah, dan alat lain yang kontak langsung dengan
aliran darah atau jaringan normal steril (Spaulding: 1939). Hal ini dapat
dicapai dengan uap bertekanan tinggi (otoklaf), pemanasan kering (oven),
sterilisasi kimiawi, seperti glutaraldehid atau formaldehid, dan secara fisik
(radiasi). Karena sterilisasi itu sebuah proses, bukan sebuah peristiwa
tunggal, maka seluruh komponen harus dilakukan secara benar agar sterilisasi tercapai.
Agar efektif, sterilisasi butuh
waktu, kontak, suhu dan dengan sterilisasi uap, bertekanan tinggi. Efektivitas
setiap metode sterilisasi juga bergantung pada empat faktor lainnya sebagai
berikut:
1. Jenis mikroorganisme yang ada.
Sebagian mikroorganisme sangat sulit dibunuh. Sebagian lainnya daoat dengan
mudah dibunuh.
2. Jumlah mikroorganisme yang ada.
Lebih mudah membunuh satu organisme daripada yang banyak.
3. Jumlah dan jenis materi organik yang
melindungi mikroorganisme tersebut. Darah atau jaringan yang menempel pada
alat-alat yang kurang bersih berfungsi sebagai pelindung mikroorganisme selama
proses sterilisasi.
4. Jumlah retakan dan celah pada
peralatan sebagai tempat menempel mikroorganisme. Mikroorganisme berkumpul di
dan dilindungi oleh goresan, retakan, dan celah, seperti jepitan yang bergerigi
tajam dan cunam jaringan.
Hal – hal yang perlu diperhatikan dalam sterilisasi:
- Sterilisator ( alat untuk steril ) harus siap
pakai,bersih dan masih berfungsi
- Peralatan yang akan di sterilisasi harus
dibungkus dan diberi label yang jelas dengan menyebutkan jenis peralatan, jumlah,
tanggal pelaksanaan steril.
- Penataan alat harus berprinsip semua bagian dapat
steril
- Tidak boleh menambahkan peralatan dalam
sterilisator sebelum waktu mensteril selesai
- Memindahkan alat steril ke dalam tempatnya dengan
korental
- Saat mendinginkan alat steril tidak boleh membuka
bungkusnya,bila terbuka harus dilakukan sterilisasi ulang
Beberapa alat yang perlu disterilkan:
- Peralatan logam (pinset, gunting, speculum,dll)
- Peralatan kaca (semprit, tabung kimia)
- Peralatan karet (cateter, sarung tangan, pipa
lambung,dll)
- Peralatan ebonite (kanule rectum, kanule
trakea,dll)
- Peralatan email (bengkok, baskom, dll)
- Peralatan porselin (mangkok, cangkir, piring, dll
)
- Peralatan plastic (selang infuse, dll)
- Peralatan tenunan (kain kassa, dll)
Prosedur
kerja:
- Bersihkan peralatan yang akan disterilisasi
- Peralatan yang dibungkus haris diberi label
- Masukkan ke dalam sterilisator dan hidupkan
sterilisator sesuai dengan waktu yang ditentukan
- Cara sterilisasi:
a) Sterilisasi
dangan merebus dalam air mendidih sampai 100 (15–20 menit) untuk logam,
kaca dan karet
b) Sterilisasi dengan stoom menggunakan
uap panas di dalam autoclave dengan waktu, suhu, tekanan tertentu untuk alat
tenun
c) Sterilisasi dengan panas kering menggunakan
oven panas tinggi (logam yang tajam, dll)
d) Sterilisasi dengan bahan kimia
menggunakan bahan kimia seperti alkohol, sublimat, uap formalin, sarung tangan
dan kateter.
1. Metode Sterilisasi Panas
Penguapan
bertekanan tinggi yang menggunakan otoklaf atau pemanasan kering dengan
menggunakan oven adalah metode sterilisasi paling umum dan tersedia saat ini.
Strerilisasi
uap tekanan tinggi adalah metode sterilisasi yang efektif, tetapi juga
paling sulit untuk dilakukan secara benar (Gruendemann dan Mangun 2001). Pada
umumnya sterilisasi ini adalah metode pilihan untuk mensterilisasi instrumen
dan alat-alat lain yang digunakan pada berbagai fasilitas pelayan kesehatan.
Bila aliran listrik bermasalah, instrumen-instrumen dapat disterilisasi dengan
sebuah sterilisator uap nonelektrik dengan menggunakan minyak tanah atau bahan
bakar lainnya sebagai sumber panas.
Sterilisator
panas kering (oven) baik untuk iklim yang lembab tetapi membutuhkan aliran
listrik yang terus menerus, menyebabkan alat ini kurang praktis pada area
terpencil (pedesaan). Lagipun, sterilisasi panas kering, dimana perlu suhu yang
lebih tinggi, hanya dapat digunakan untuk benda-benda gelas atau logam. Karena
akan melelehkan bahan lainnya.
Instrumen
steril dan instrumen lainnya harus digunakan segera kecuali jika:
a) Dibungkus dengan lapisan ganda kain katun, kertas atau
bahan lainnya sebelum proses sterilisasi; atau
b) Dapat disimpan dalam wadam wadah kering dan steril
berpenutup rapat.
Bahan yang digunakan untuk membungkus instrumen dan
instrumen lainnya harus berpori-pori agar uap dapat masuk tetapi beranyaman
cukup ketat untuk menghindari masuknya partikel-partikel debu dan
mikroorganisme. Paket steril terbungkus harus tetap dalam kondisi steril
sehingga paket atau wadah itu terkontaminasi. Robek atau usang pada
bungkusannya, paket menjadi basah atau hal lainnya yang menyebabkan
mikroorganisme memasuki paket atau wadah tersebut.
2. Sterilisasi Panas untuk Penyakit
Prion
Penyakit prion, seperti Creutzfeldt-Jakob
disease (CJD), adalah sekelompok penyakit degeneratif otak yang mendapat
perhatian khusus selama beberapa tahun terakhir ini. Penyakit pada hewan ini
(anjing, sapi dan hewan menyusui lainnya) termasuk manusia akan secara cepat
berakibat fatal pada saat timbulnya simptom. Pada manusia, CJD masih jarang
terjadi dengan insiden kurang dari 1 per satu juta penduduk (Holman dkk.:1996).
CJD merupakan masalah pencegahan infeksi yang unik karena prion, yaitu protein
mengandung agen infeksi dapat tetap bertahan hidup pada proses sterilisasi uap
tekanan tinggi atau panas yang direkomendasikan. Selain itu, disinfektan kimia
termasuk sterilan, seperti glutaraldehid dan formaldehid, tidak cukup kuat
untuk menghilangkan infektivitas prion pada instrumen yang terkontaminasi dan
instrumen lainnya. Oleh karena itu, instrumen-instrumen bedah dan perangkat
kritis lainnya yang terkontaminasi dengan jaringan berisiko tinggi (yaitu otak,
sumsum tulang dan jaringan mata) dari pasien dengan CJD yang diketahui atau
dicurigai, diperlukan suatu penanganan khusus (Rutala dan Webew 2001).
Rekomendasi untuk merawat
pasien-pasien dengan CJD dalam penanganan dan pemrosesan instrumen-instrumen
dan perangkat lain yang terkontaminasi, terdiri dari hal berikut ini.
- Setelah
pembedaha :1) hindari memegang instrumen-instrumen yang terkontaminasi, 2)
alat-alat sekali pakai dan perlengkapan perlindungan diri yang dipakai oleh tim
bedah harus ditempatkan dalam kantong plastik dan dibakar, 3) setelah
pembedahan, alat-alat nonkritis, seperti meja operasi, tiang infus Mayo dan
permukaan lingkungan lainnya dapat didekontaminasi secara mengelap dengan kain
yang direndam dengan larutan klorin 0,5%.
- Instrumen-instrumen
dan perangkat lain yang bersifat tahan panas harus didekontaminasi dahulu
dengan memasukannya pada terilisator pemindahan graviti pada suhu 121oC
(250oF) selama 1 jam atau pada sterilisator pra-vakum pada 134oC
(275oF) selama 18 menit.
- Setelah
dekontaminasi, bersihkan dan lakukan strerilisasi instrumen-instrumen tersebut
dengan mempergunakan proses yang dianjurkan.
- Kemungkinan
lainnya, setelah pembedahan, redamlah instrumen-instrumen yang terkontaminasi
dan perangkat lainnya dalam Natrium Hidroksid (NaOH) selama 1 jam. Kemudian,
bersihkan dan lakukan sterilisasi atas instrumen dan perangkat tersebut dengan
mempergunakan proses yang dianjurkan (Abrutyn 1998; Fishman dkk 2002).
- Jaringan
biopsi dan spesimen bedah harus ditempatkan dalam formalin selama 48 jam kemudian
dalam asam formik selama 1 jam dan akhirnya kembali ke dalam larutan formalin
yang baru selama 48 jam (Abrutyn 1998).
3. Sterilisasi Dengan Cara Penguapan
1. Prinsip-prinsip
Umum
Penguapan adalah sterilan yang efektif karena dua
alasan. Pertama, uap pekat adalah sebuah “kendaraan” energi termal yang sangat
efektif. Jenis ini jauh lebih efektif untuk mengangkut energi ke bahan yang
akan disterilisasi daripada udara panas (kering). Di dapur, kentang dapat
dimasak dalam beberapa menit dalam oven udara panas akan membutuhkan waktu satu
jam atau lebih, walaupun oven itu dinyalakan pada suhu yang jauh lebih tinggi.
Uap, khususnya dibawah tekanan, membawa energi termal ke kentang lebih cepat,
sebaliknya udara panas lebih lambat. Kedua, uap adalah sterilan yang efektif
karena lapisan luar mikroorganisme yang bersifat protektif dan resisten dapat
dilemahkan oleh uap, sehingga terjadi koagulasi (serupa dengan memasak putih
telur) pada bagian dalam mikroorganisme yang sensitif. Beberapa jenis
kontaminan tertentu, khususnya yang berminyak atau berlemak, dapat melindungi
mikroorganisme dari efek uap, sehingga mengganggu proses sterilisasi. Alasan
ini yang menekankan kembali kepentingan mencuci bersih bahan-bahan sebelum
proses sterilisasi.
2. Persyaratan
Sterilisasi uap harus memenuhi empat kondisi: 1)
kontak yang memadai, 2) suhu yang sangat tinggi, 3) waktu yang cepat, dan 4)
kelembaban yang memadai. Walaupun seluruhnya perlu untuk terjadinya
sterilisasi, kegagalan sterilisasi di klinik dan rumah sakit paling sering
disebabkan oleh kurangnya kontak uap atau kegagalan untuk mencapai suhu yang
memadai. Keempat kondisi dibahas menurut kepentingannya untuk menjamin
sterilisasi dengan uap.
3. Kelebihan
a) Metode
sterilisasi yang paling sering dipakai dan efektif.
b) Waktu siklus
sterilisasi lebih pendek daripada panas kering atau siklus kimia.
4. Kekurangan
a) Membutuhkan sumber panas yang terus menerus (bahan
bakar kayu, minyak tanah atau aliran listrik).
b) Membutuhkan peralatan (sterilisator uap) yang harus
dipelihara dengan cermat agar tetap berfungsi dengan baik.
c) Membutuhkan ketaatan waktu, suhu dan tekanan secara
ketat.
d) Sukar menghasilkan paket kering
karena gangguan prosedur sering terjadi (misalnya mengangkat bahan-bahan
sebelum kering, khususnya pada iklim yang lembab dan panas).
e) Siklus sterilisasi yang berulang-ulang dapat
menyebabkan bopeng dan penumpulan sisi instrumen yang tajam (seperti gunting)
f) Bahan-bahan plastik tidak tahan suhu
tinggi.
5. Instruksi
Sterilisator Uap
Langkah 1: mendekontaminasikan, membersihkan, dan mengeringkan seluruh
instrumen yang akan disterilisasi.
Langkah 2: semua peralatan berengsel harus terbuka atau tidak terkunci, sedangkan
instrumen yang terdiri lebih dari satu bagian atau bagian sorong harus
dibongkar.
Langkah 3: instrumen sebaiknya tidak diikat ketat dengan karet atau cara
lain yang dapat mencegah kontak uap dengan seluruh permukaan.
Langkan 4: susun paket dalam ruangan untuk memudahkan sirkulasi yang
bebas dan penetrasi uap ke seluruh permukaan.
Langkah 5: ketika menggunakan sterilisator uap, sebaiknya
instrumen-instrumen bersih atau bahan bersih lainnya dibungkus dengan kain
katun ganda atau kertas koran. (Instrumen-instrumen yang tidak dibungkus harus
digunakan segera setelah dikeluarkan dari sterilisator kecuali bila tetap
disimpan dalam wadah steril dan tertutup).
Langkah 6: lakukan sterilisasi pada suhu 121oC (250oF)
selama 30 menit untuk alat terbungkus, waktu ditentukan dengan jam.
Langkah 7: tunggu 20 hingga 30 menit (atau hingga meter tekanan udara
terbaca nol) sampai sterilisator dingin. Kemudian buka penutup atau pintunya
mengeluarkan uap. Biarkan paket instrumen kering seluruhnya sebelum
diangkat, biasanya hingga selama 30 menit. (paket yang basah dapat menyerap
bakteri, virus, dang fungi dari sekelilingnya). Paket instrumen terbungkus
tersebut tidak dapat diterima apabila ada tetesan air atau lembab yang terlihat
pada bagian luar paket tersebut ketika dikeluarkan dari ruang sterilisator.
Apabila menggunakan wadah kaku (misalnya drum), tutup/geserkan gasket.
Langkah 8: agar mencegah kondensasi ketika mengeluarkan paket-paket
tersebut dari ruang sterilisator uap, tempatkan baki dan paket steril pada
permukaan yang dilapisi dengan kertas atau bahan lain.
Langkah 9: setelah sterilisasi, instrumen yang dibungkus dengan kain
atau kertas dianggap steril sepanjang paket tersebut tetap bersih, kering
(termasuk tidak ada noda air) dan utuh. Instrumen yang tidak dibungkus harus
digunakan segera atau disimpan dalam wadah-wadah yang tertutup dan steril.
4. Sterilisasi dengan Panas Kering
Bila tersedia, panas kering adalah sebuah cara yang praktis untuk sterilisasi
atas jarum dan instrumen lainnya. Dianjurkan memakai sebuah oven konveksi
dengan ruangan baja antikarat terisolasi dan rak-rak perforasi untuk
memungkinkan sirkulasi udara panas, namun sterilisasi panas kering ini akan
dapat tercapai dengan sebuah oven sederhana, asalkan sebuah termometer
digunakan untuk memastikan suhu didalam oven.
Sterilisasi panas-kering ini tercapai dengan proses konduksi panas. Pada
awalnya, panas diabsorbsi oleh permukaan luar dari sebuah instrumen dan
kemudian dikirimkan ke lapisan berikutnya. Pada akhirnya, keseluruhan objek
mencapai suhu yang dibutuhkan untuk sterilisasi. Mikroorganisme mati pada saat
penghancuran protein secara lambat oleh panas kering. Proses sterilisasi panas
kering berlangsung lebih lama daripada sterilisasi uap, karena kelembaban dalam
proses sterilisasi uap secara pasti mempercepat penetrasi uap dan memperpendek
waktu yang dibutuhkan untuk membunuh mikroorganisme.
1. Kelebihan
o Metode yang
sangat efektif, seperti sterilisasi panas kering dengan konduksi menjangkau
seluruh permukaan instrumen, bahkan untuk instrumen yang tidak dapat dibongkar
pasang.
o Bersifat protektif atas benda tajam
atau instrumen dengan sisi potong (lebih sedikit masalh dengan penumpulan sisi
potong tersebut).
o Tidak meninggalkan sisi kimia.
o Mengurangi masalah “paket basah” di
iklim lembab.
2.
Kekurangan
-
Instrumen plastik dan karet tidak dapat disterilisasi
dengan cara panas kering karena suhu yang digunakan (160o-170oC)
terlalu tinggi untuk materi ini.
-
Panas kering
memenetrasi materi secara lambat dan tidak merata.
-
Membutuhkan oven dan sumber listrik secara terus
menerus.
3. Instruksi
(oven panas kering)
Langkah 1: lakukan dekontaminasi,
bersihkan dan keringkan seluruh instrumen dan instrumen lainnya yang akan
disterilisasi.
Langkah 2: bila dikehendaki,
bungkuslah instrumen-instrumen dengan kertas alumunium atau tempatkan disebuah
kontainer logam dengan penutup yang rapat. Pembungkusan membantu mencegah
proses kontaminasi ulang sebelum digunakan. Jarum suntik atau jarum jahit harus
dimasukkan dalam tabung gelas dengan disumbat kapas.
Langkah 3: tempatkan
instrumen-instrumen lepas (tidak dibungkus) dalam wadah logam atau diatas baki
di oven dan panaskan hingga suhu yang diinginkan.
Langkah 4: setelah tercapai
temperatur yang dikehendaki, mulailah penghitungan waktu. Dianjurkan suhu/rasio
waktu berikut inia (APIC 2002):
· 170̊C(340̊F)
– 60 menit
· 160̊C(320̊F)
– 120 menit
· 150̊C(300̊F)
– 150 menit
· 140̊C(285̊F)
– 180 menit
· 121̊C(25̊F)
– semalaman
Tergantung pada suhu yang dipilih,
waktu total siklus (prapemanasan, lamanya sterilisasi, dan pendinginan) akan
membutuhkan waktu sekitar 2,5 jam pada 170̊C hingga lebih dari 8 jam pada 121̊C.
Langkah
5: setelah dingin, angkatlah paket/dan wadah logam dan simpanlah. Instrumen
lepas sebaiknya dikeluarkan dengan curam yang steril dan gunakan segera atau
tempatkan di wadah steril dengan penutup yang rapat.
3. Disinfektan
Tingkat Tinggi (DTT)
DDT adalah cara efektif untuk membunuh mikroorganisme
penyebab penyakit dari peralatan, sterilisasi tidak selalu memungkinkan dan
tidak selalu praktis. DTT bisa dijangkau dengan cara merebus, mengukus atau
secara kimiawi. Ini dapat menghilangkan semua organisme kecuali beberapa
bakteri endospora sebesar 95%.
1. DTT dengan cara merebus
Merebus merupakan cara efektif dan praktis untuk DTT.
Perebusan dalam air selama 20 menit setelah mendidih, dimana semua alat jika
mungkin harus terendam semua, ditutup rapat dan dibiarkan mendidih serta
berputar.
- Gunakan panci dengan penutup yang rapat
- Ganti air setiap kali mendesinfeksi peralatan
- Rendam peralatan sehingga semuanya terendam dalam
air
- Mulai panaskan air
- Mulai hitung waktu saat air mulai mendidih
- Jangan tambahkan benda apapun ke dalam air
mendidih setelah penghitungan waktu dimulai
- Rebus selama 20 menit
- Catat lama waktu perebusan pelaratan di dalam
buku khusus
- Biarkan peralatan kering dengan cara
diangin-anginkan sebelum digunakan atau disimpan
- Setelah peralatan kering, gunakan segera atau
simpan dalam wadah DTT dan penutup.
- Peralatan bisa disimpan sampai satu minggu asalkan
penutupnya tidak dibuka.
2. DTT dengan Uap
Setelah sarung tangan didekontaminasi dan dicuci maka
sarung tangan siap DTT dengan uap tanpa diberi talk.
- Gunakan panci perebus yang memiliki 3 susunan
nampan pengukus.
- Gulung bagian atas sarung tangan sehingga setelah
DTT selesai, sarung tangan dapat dipakai tanpa membuat kontaminasi baru
- Letakkan sarung tangan pada baki atau tampan
pengukus yang berlubang di bawahnya. Agar mudah dikeluarkan dari panci, letakkan
sarung tangan dengan bagian jarinya kearah tengah panci. Jangan menumpuk
sarung tangan.
- Ulangi proses tersebut hingga semua nampan terisi
dengan menyusun tiga nampan pengukus yang brisi air.
- Letakkan penutup di atas panci paling atas dan
panaskan air hingga mendidih. Jika uap airnya sedikit, suhunya mungkin
tidak cukup tinggi untuk membunuh mikroorganisme.
- Catat lamanya waktu pengukusan jika uapa air
mulai keluar dari celah panci.
- Kukus sarung tangan 20 menit
- Angkat nampan pengukus paling atas dan goyangkan
perlahan – lahan agar air yang tersisa menetes keluar.
- Letakkan nampan pengukus diatas panci yang kosong
disebelah kompor
- Ulangi langkah tersebut hingga nampan
tersebut berisi sarung tangan susun diatas panci perebus yang
kosong.
- Biarkan sarung tangan kering dengan diangin-
anginkan di dalam panci sampai 4 – 6 jam.
- Jika sarung tangan tidak akan segera dipakai, setelah
kering gunakan pinset DTT untuk memindahkan sarung tangan. Letakkan sarung
tangan dalam wadah DTT lalu tutup rapat.
3. DTT dengan kimiawi
1.
Letakkan peralatan kering yang sudah didekontaminasi
dan dicuci dalam wadah yang sudah berisi laruta kimia.
2.
Pastikan bahwa peralatan terendam semua dalam larutan.
3.
Rendam selama 20 menit.
4.
Catat lama waktu perendaman
5.
Bilas peralatan dengan air matang dan angin – anginkan
di wadah DTT yang berpenutup
6.
Setelah kering peralatan dapat digunakan atau disimpan
dalam wadah DTT yang bersih.
2.5 Strategi Pencegahan
dan Pengendalian Infeksi
Pencegahan
infeksi yang efektif dapat didasarkan pada upaya-upaya berikut:
·
Setiap orang dianggap
dapat menularkan penyakit karena infeksi dapat bersifat asimptomatik.
·
Setiap orang harus
dianggap beresiko terkena infeksi.
·
Permukaan benda
disekitar kita, peralatan benda-benda lainnya yang akan dan telah bersentuhan
dengan kulit yang utuh, lecet, selaput mukosa, atau darah harus dianggap
terkontaminasi, maka harus diproses secara benar.
·
Jika tidak diketahui
apakah permukaan peralatan atau benda lainnya telah diproses maka semua itu
harus dianggap terkontaminasi.
·
Resiko infeksi tidak
bisa dihilangkan secara total, tapi dapat dikurangi hingga sekecil mungkin
dengan menerapkan tindakan-tindakan pencegahan infeksi secara benar.
Strategi
pencegahan dan pengedalian infeksi di tempat pelayanan kesehatan:
1.
Pengendalian administratif.
Kegiatan
ini merupakan prioritas pertama dari strategi IPC (Infection Prevention and
Control), meliputi penyediaan kebijakan infrastruktur dan prosedur dalam
mencegah, mendeteksi, dan mengendalikan infeksi selama perawatan kesehatan.
Kegiatan akan efektif bila dilakukan mulai dari antisipasi alur klien sejak
saat pertama kali datang sampai keluar dari sarana pelayanan.
Pengendalian
administratif dan kebijakan–kebijakan yang diterapkan meliputi pembentukan
infrastruktur dan kegiatan IPC yang berkesinambungan, membangun pengetahuan
petugas kesehatan, mencegah kepadatan pengunjung di ruang tunggu, menyediakan
ruang tunggu khusus untuk orang sakit dan penempatan klien rawat inap,
mengorganisir pelayanan kesehatan agar persediaan perbekalan digunakan dengan
benar.
2.
Pengendalian dan rekayasa lingkungan.
Kegiatan
ini dilakukan termasuk di infrastruktur sarana pelayanan kesehatan dasar dan di
rumah tangga yang merawat kasus dengan gejala ringan dan tidak membutuhkan
perawatan di RS. Kegiatan pengendalian ini ditujukan untuk memastikan bahwa
ventilasi lingkungan cukup memadai di semua area didalam fasilitas pelayanan
kesehatan serta di rumah tangga, serta kebersihan lingkungan yang memadai.
Harus dijaga pemisahan jarak minmal 1 m antara setiap klien satu dan klien
lain, termasuk dengan petugas kesehatan (bila tidak menggunakan APD). Kedua
kegiatan pengendalian ini dapat membantu mengurangi penyebaran beberapa patogen
selama pemberian pelayanan kesehatan.
3.
Alat Perlindungan Diri (APD).
Penggunaan
secara rasional dan konsisten APD yang tersedia serta higiene sanitasi tangan
yang memadai juga akan membantu mengurangi penyebaran infeksi. Meskipun memakai
APD adalah langkah yang paling kelihatan dalam upaya pengendalian dan penularan
infeksi, namun upaya ini adalah yang terakhir dan paling lemah dalam hirarki
kegiatan IPC. Oleh karena itu jangan mengandalkannya sebagai strategi utama
pencegahan. Bila tidak ada langkah pengendalian administratif dan rekayasa
teknis yang efektif, maka APD hanya memiliki manfaat yang terbatas.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Pencegahan dan Pengendalian Infeksi
(PPI) adalah suatu upaya yang ditujukan untuk mencegah transmisi
penyakit menular di semua tempat pelayanan kesehatan (Minnesota Department of
Health, 2014). Pencegahan memiliki arti mencegah agar tidak terjadi infeksi,
sedangkan pengendalian memiliki arti meminimalisasi resiko terjadinya infeksi. Dengan demikian, tujuan
utama dari pelaksanaan program ini adalah mencegah dan mengendalikan infeksi
dengan cara menghambat pertumbuhan dan transmisi mikroba yang berasal dari
sumber di sekitar penderita yang sedang dirawat (Darmadi, 2008).
Infeksi
adalah proses saat organisme (bakteri, virus, jamur) yang mampu menyebabkan
penyakit masuk kedalam tubuh atau jaringan dan menyebabkan trauma atau
kerusakan. Cara
penularan dibagi menjadi kontak langsung dan tidak langsung. Kontak langsung
terdiri atas penyebaran orang ke orang (misalnya bersin, kontak seksual, atau
semacamnya), hewan ke orang (misalnya dari gigitan atau cakaran binatang,
binatang peliharaan), atau dari ibu hamil ke anaknya yang belum lahir melalui
plasenta. Kontak tidak langsung teridiri atas gigitan serangga yang hanya
menjadi pembawa dari mikoorganisme atau vektor (seperti nyamuk, lalat, kutu)
dan kontaminasi melalui air dan makanan.
3.2
Saran
Kita
sebagai seorang tenaga kesehatan harus mencegah terjadinya infeksi dan
beranggapan bahwa setiap orang beresiko terinfeksi. Karena resiko infeksi tidak
bisa di hilangkan secara total, tapi dapat dikurangi hingga sekecil mungkin
dengan menerapkan tindakan-tindakan pencegahan infeksi secara benar. Tindakan-tindakan
pencegahan infeksi bisa di lakukan dengan hal kecil seperti tidak lupa mencuci
tangan, menggunakan sarung tangan dan perlatan lainnya, menggunakan teknik
asepsis atau septik, memproses alat bekas pakai, dan menjaga kebersihan dan
sanitasi lingkungan.
Daftar Pustaka
Gustina, Novvi Karlina. 2014. KDK
(Keterampilan
Dasar Kebidanan) . Jakarta: in
media
Are virtual sports betting sites safe?
BalasHapusAre virtual sports betting op 사이트 sites safe? Here is a list of best virtual sports betting sites in the world. Learn everything you need to know to 벳 인포 승무패 계산기 find the 손 풀기 게임 best 1. Bet365 – Excellent mobile site 텍사스 홀덤 for betting on sports2. 세븐 포커 족보 InterTops – Excellent customer support